Ternyata ayahku
Apa yang sedang kalian lakukan saat ini? Apa yang kamu pikirkan tentang seorang ayah? Ya ayah bagi ku, adalah sosok yang sangat pemarah, dan hanya memikirkan diri sendiri, etsz tapi itu dulu, saat aku belum menyadarinya, dan sekarang aku sayang... banget sama ayah.
Pada saat umur ku menginjak usia 7 tahun aku terlahir sebagai anak yang sangat manja, dan itu aku lakukan hanya di depan ibu ku, ibu, ibu adalah sosok yang sangat penyabar bagiku, dan untuk proses marah ibu lama marahnya, tapi buat seorang ayah, ayah sangat cepat marah.
Aku selalu lupa waktu jika aku sudah bermain dengan sahabatku, di umurku yang masih 7 tahun, pikiranku hanya bermain dan bermain, dan pasti ujung-ujung aku pulang harus di marah oleh ayahku, lagi-lagi di marah dan di marah lagi, setiap berangkat sekolah aku selalu minta tolong untuk di antar oleh ibu ku, dari TK sampai SD kelas 3 aku masih diaantar dan terkadang aku masih minta di tungguin oleh ibu ku, dan pastinya waktu itu aku sering kali setiap mau berangkat sekolah harus berdebat dulu dengan ibuku, karena aku jika tidak di antar aku tidak berangkat sekolah, maka tak jarang juga aku mendapat pukulan kecil dari ibuku.
12 tahun kemudian
Hingga aku berumur 20 tahun aku juga masih sering berdebat dengan ayahku, permasalah sedikit menjadi banyak, masalah kecil jadi besar, dan masalah sepele pun menjadi berlarut-larut, ya itu karena aku dan ayah ku selalu tidak ada yang mau mengalah, apalagi semuanya sama-sama merasakan paling benar sendiri, ayahku tergolong ayah yang keras, dalam mengatur anaknya serba ketat gitu kayak di ponpes aja, hingga kini baru aku sadari ayah, ternyata dengan cara semua yang kamu berikan menjadikan aku menjadi lebih baik, dan aku seperti ini karena ayah.
Aku pun tersadar, semua ternyata tak sia-sia, dalam hidup ku yang penuh ketakutan dan tak bisa bebas seperti yang lainya, aku berjalan seperti ada yang menyetir, ya aku ibarat sebuah mobil aku sebagai penumpang yang tidak tahu arah, dan ayah ku sebagai sopir, terkadang aku ingin berhenti tapi sopir itu tetap berjalan dan berusaha mencari di mana tempat yang memang aku tuju, meski ayahku selalu membatasi ku dengan sangat terbatas, dan sering kali aku di marahinya, dan sering juga keinginan ku tak sama dengan ayahku, apa mau ku, bukan menjadi apa maunya ayah, dan aku benar-benar tersadar jika dulu aku sering di marah dan semua yang di lakukan oleh ayah yang aku anggap membuat ku tidak berarti kini aku merasakannya, bahwa semua yang ayah lakukan adalah untuk kebahagianku dan untuk kebaikan ku juga, mungkin jika ayah ku tidak keras seperti itu aku tidak menjadi anak yang lebih baik dan tidak bisa menikmati kehidupan yang memang harus di rasakan, dan tidak semua bisa merasakan kebahagia di akhir, dan kini aku merasakan kebahagia yang tiada akhir.
Untungnya saat aku usia 7 tahun dan merasa tidak bebas ternyata aku jauh lebih baik dari yang aku pikirkan, dan dalam pendidikan aku selalu bisa menjadi untuk yang terbaik, ya itu semua karena ayahku, yang aku selama ini berfikir ayah adalah monster dan musuh terbesarku, kini aku bisa meraskaan bahwa tidak ada seorang ayah yang akan membuat anaknya sengsara, itulah ayah ku, selalu berusaha agar aku tidak terjatuh, dan jika aku terjatuh ayah pun siap membangkitkan aku kembali untuk tetap semangat. Ayah maafkan aku, aku sayang ayah, ayah adalah pahlawanku, ibu adalah malaikatku dan adik-adik ku adalah semangat ku.
Terimakasih buat ke dua orang tuaku.



0 comments:
Post a Comment